Mengayuh 60 Kilometer Demi Kumisah: Kisah Nyata Kepedulian Kapolres Lombok Utara yang Menyentuh Hati

Lombok Utara, 12 Januari 2026 — Negara tidak selalu hadir dalam bentuk pidato resmi atau upacara seremonial. Di Lombok Utara, negara justru hadir melalui kayuhan sepeda sejauh 60 kilometer, menyusuri desa-desa terpencil demi satu tujuan kemanusiaan: mengembalikan harapan hidup seorang gadis disabilitas bernama Kumisah.

Kumisah, warga Dusun Terbis, Desa Andalan, Kecamatan Bayan, sejak lahir hidup dengan keterbatasan fisik. Bertahun-tahun ia hanya bisa menyaksikan dunia dari jarak yang terasa semakin jauh. Hingga akhirnya, pada Sabtu (10/1/2026), harapan itu datang dalam wujud sederhana namun bermakna besar: sebuah kursi roda.

Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K., yang bersama pejabat utama Polres dan Bhayangkari menempuh perjalanan panjang melalui program Gowes Kamtibmas.

Gowes Kamtibmas: Dari Olahraga Menjadi Jalan Kemanusiaan

Perjalanan menuju Desa Andalan bukanlah rute singkat. Medan yang menantang menjadi bagian dari titik ke-31 rangkaian Gowes Kamtibmas Polres Lombok Utara, sebuah program yang dirancang untuk menyambangi desa-desa, mendengar langsung keluhan warga, sekaligus memastikan negara benar-benar hadir di tengah masyarakat.

“Begitu kami mendengar tentang kondisi Kumisah, kami merasa tidak cukup hanya menyalurkan bantuan dari jauh. Kami ingin datang langsung, melihat, dan memastikan sendiri,” ujar AKBP Agus Purwanta di sela kegiatan.

Saat kursi roda itu diserahkan, senyum Kumisah pun merekah. Bagi banyak orang, kursi roda mungkin hanyalah alat bantu. Namun bagi Kumisah, dua roda itu adalah pintu menuju kehidupan yang lebih luas, lebih mandiri, dan lebih bermartabat.

Tidak Hanya Kumisah: Bantuan Sosial dan Layanan Kesehatan Gratis

Kegiatan kemanusiaan itu tidak berhenti pada satu kisah. Dalam kesempatan yang sama, Polres Lombok Utara menyalurkan 50 paket sembako kepada warga rentan serta menghadirkan layanan kesehatan gratis melalui Klinik Polres yang dimanfaatkan ratusan warga Desa Andalan.

Bagi Kapolres, keamanan dan kesejahteraan adalah dua hal yang tak terpisahkan.

“Keamanan bukan hanya soal mencegah kejahatan. Keamanan juga berarti memastikan masyarakat merasa diperhatikan, sehat, dan terlindungi secara kemanusiaan,” tegasnya.

Dorong UMKM Naik Kelas, Bhayangkari Turun Langsung ke Lapangan

Di sisi lain, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, turut meninjau langsung aktivitas UMKM Desa Andalan. Ia tidak sekadar berkunjung, tetapi mencermati persoalan mendasar yang sering dihadapi pelaku usaha kecil.

Mulai dari perhitungan biaya produksi, pencatatan keuangan, hingga penentuan harga jual yang belum mencerminkan struktur biaya yang sehat menjadi perhatian utama.

“Kalau UMKM ingin naik kelas, yang dibenahi bukan hanya kemasan, tetapi juga cara menghitung dan mencatat usaha,” jelas Ny. Heny.

Ia juga mendorong keterlibatan mahasiswa KKN untuk membantu pembangunan website desa, pembuatan logo UMKM, serta strategi branding produk lokal agar mampu menembus pasar yang lebih luas dan kompetitif.

Negara yang Hadir dengan Empati

Langkah kecil di Desa Andalan itu mencerminkan pendekatan besar dalam pelayanan publik: negara yang tidak menunggu laporan di meja, tetapi menjemput persoalan langsung ke lapangan.

Kini, Gowes Kamtibmas bukan lagi sekadar agenda olahraga atau patroli simpatik. Program ini telah menjelma menjadi model kepemimpinan lapangan, memadukan keamanan, kemanusiaan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi dalam satu gerak kebijakan.

Bagi Kumisah, hari itu akan selalu dikenang sebagai hari ketika hidupnya berubah arah.

Bagi negara, kisah ini menjadi pengingat penting: kehadiran paling bermakna sering kali datang tanpa suara keras, tetapi melalui keringat, empati, dan keberanian untuk turun langsung ke jalan.

(HSH)

Bagikan: