Dari Kebun ke Dapur MBG, Labu Siam Timbanuh Naik Kelas

Lombok Timur – Potensi pangan lokal Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, mulai menunjukkan transformasi nyata. Mahasiswa Universitas Mataram (Unram) melalui program KKN PMD 2025/2026 menginisiasi pengolahan labu siam menjadi produk fresh cut siap olah untuk mendukung kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Inovasi ini melahirkan kelompok usaha Fresh Food Timbanuh, yang melibatkan petani, pengepul, dan warga desa dalam satu rantai pasok terintegrasi. Unit usaha tersebut fokus menyediakan bahan pangan lokal dengan standar kebersihan, higienitas, serta pengelolaan modern.

Ketua Tim KKN PMD Desa Timbanuh, Lalu Muhammad Khairul, mengatakan program ini dirancang untuk membuka akses desa ke pasar yang lebih luas.

“Kami ingin membuktikan bahwa produk desa bisa dikelola secara profesional, higienis, dan berkelanjutan sesuai standar industri pangan,” ujarnya.

Produk perdana Fresh Food Timbanuh berupa Fresh Cut Labu Siam diproses melalui tahapan sortasi, pencucian, pemotongan, hingga pengemasan bersih. Skema ini dinilai mampu membantu dapur MBG menghemat waktu persiapan sekaligus menjaga kualitas bahan baku tetap konsisten.

Dapur MBG Al-Barakah di Desa Pringgasela menjadi konsumen awal sejak Januari 2026. Selama ini dapur tersebut rutin menggunakan labu siam, namun kerap menghadapi kendala waktu dan tenaga dalam proses penyiapan bahan mentah.

Selain produksi, mahasiswa juga mulai menerapkan sistem manajemen usaha sederhana namun terstruktur. Penanggung jawab program, Rico Maldino, menjelaskan bahwa pencatatan produksi, pengelolaan stok, serta pembagian peran organisasi dilakukan sejak awal untuk mengantisipasi peningkatan permintaan.

Aspek lingkungan turut menjadi perhatian. Limbah kulit labu siam diolah kembali menjadi pupuk organik cair dan disalurkan kepada petani, sehingga tercipta pola ekonomi sirkular yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Desa Timbanuh, Muhammad Ilham, SP., menilai kehadiran program KKN membawa arah baru bagi pengembangan ekonomi desa.

“Penerapan standar seperti GMP, pengelolaan limbah, dan manajemen usaha yang tertata menjadi modal penting agar usaha desa bisa tumbuh modern tanpa meninggalkan potensi lokal,” tuturnya.

Sementara itu, Dosen Pembimbing KKN, Prof. Dr. Baiq Rien Handayani, menilai inovasi ini memiliki prospek jangka panjang.

“Program ini berpotensi menjadi model pengembangan usaha desa berbasis pangan lokal yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan, terutama jika mendapat dukungan peralatan dan kebijakan dari pemerintah,” ujarnya.

Melalui inovasi fresh cut labu siam, Desa Timbanuh menunjukkan bahwa penguatan pangan lokal dapat dilakukan secara rapi, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pasar masa kini. (HSH)

Bagikan: