Opini – Pemikir sosial, Dr. Dewa Wijaya, M.H., menyampaikan refleksi mendalam tentang dinamika hubungan antarmanusia di tengah kehidupan modern yang sarat ketidakpastian. Dalam pandangannya, salah satu kunci menjaga ketenangan batin adalah memahami bahwa perubahan merupakan sifat alami yang melekat pada setiap manusia.
Menurut Dr. Dewa Wijaya, perubahan bukanlah sesuatu yang harus disesali, melainkan realitas yang perlu disadari sejak awal dalam membangun relasi sosial.
Ia mengibaratkan sifat perubahan manusia dengan fenomena alam yang paling sederhana.
“Jangankan manusia, langit saja bisa berubah kalau sudah waktunya,” ujarnya.
Ungkapan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan adalah bagian dari hukum kehidupan. Dalam perspektif sosiologis maupun psikologis, manusia memiliki kehendak bebas untuk mengubah sikap, pandangan, bahkan perasaannya seiring perjalanan waktu.
Dalam refleksinya, Dr. Dewa Wijaya menekankan tiga hal penting yang patut dipahami masyarakat ketika menjalin hubungan dengan orang lain.
Pertama, memahami realitas perubahan.
Manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dan pilihan hidupnya. Oleh karena itu, perubahan dalam diri seseorang adalah sesuatu yang wajar terjadi.
Kedua, mengelola ekspektasi.
Meletakkan harapan yang terlalu tinggi kepada orang lain seringkali menjadi sumber kekecewaan. Mengelola ekspektasi dengan bijak akan membantu menjaga stabilitas emosi dalam relasi sosial.
Ketiga, membangun ketahanan mental.
Kedewasaan emosional tercermin dari kemampuan seseorang untuk tetap tenang meskipun orang lain berubah. Kedamaian batin tidak seharusnya sepenuhnya bergantung pada konsistensi sikap orang lain.
“Jangan berekspektasi terlalu tinggi kepada siapapun, karena manusia bisa berubah kapan saja mereka mau. Memahami hal ini bukanlah pesimisme, melainkan bentuk kedewasaan dalam melihat realitas sosial,” jelasnya.
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun di atas harapan yang berlebihan, melainkan di atas pemahaman, penerimaan, dan kemampuan mengelola diri. Dengan cara pandang demikian, masyarakat diharapkan mampu menjalani relasi sosial—baik dalam lingkungan profesional, pertemanan, maupun keluarga—secara lebih rasional dan dewasa.