Gema “Langit” di Bumi Tatas Tuhu Trasna: Badai Pasti Berlalu, Sehat Selalu Abah!

LOMBOK TENGAH – Ada getaran yang berbeda di udara Lombok Tengah hari ini. Bukan sekadar hiruk-pikuk pasar atau deru mesin pembangunan, melainkan sebuah harmoni doa yang membubung kolektif. Nama “Abah”—sang maestro pembangunan dua periode—kembali menjadi buah bibir, bukan karena kebijakan baru, melainkan karena cinta rakyat yang tak kunjung surut.
​Sabtu (9/5/2026), Miq Karde, salah satu tokoh yang dikenal vokal menyuarakan aspirasi akar rumput, berdiri di hadapan awak media dengan raut wajah penuh kharisma sekaligus keharuan. Ia tidak sedang membawa data statistik, melainkan membawa pesan dari hati masyarakat.

​Bagi publik Lombok Tengah, Abah bukanlah sekadar nama di buku sejarah birokrasi. Ia dianggap sebagai “Pahlawan Pembangunan” yang berhasil menyulap wajah daerah ini menjadi lebih kompetitif.

​“Badai pasti berlalu. Sehat selalu Abah. Doa masyarakat Lombok Tengah selalu berkumandang untuk beliau,” ujar Miq Karde dengan nada yang bergetar namun tegas.

​Pernyataan “Badai Pasti Berlalu” bukan sekadar kiasan cuaca, melainkan simbol keyakinan masyarakat bahwa ujian yang tengah dihadapi sang tokoh akan segera menemui titik terang. Karde menegaskan bahwa dedikasi Abah selama sepuluh tahun memimpin telah menanam benih loyalitas yang sangat dalam di sanubari warga.

​Mengapa doa ini begitu masif? Jawabannya ada pada infrastruktur yang kita injak dan ekonomi yang kini berputar. Miq Karde mengenang bagaimana Abah memimpin dengan gaya yang “merakyat tapi berani.” Kebijakan-kebijakan yang dulu diambil dengan penuh risiko, kini justru menjadi fondasi kesejahteraan yang dinikmati warga hari ini.

​Kini, saat Abah sedang diuji oleh kondisi kesehatan, masyarakat melakukan “serangan balik” positif. Jika dulu Abah yang bekerja untuk warga, kini warga yang “bekerja” lewat jalur langit.

​Pantauan di lapangan menunjukkan doa-doa ini tidak hanya menggema di tempat ibadah, tetapi juga membanjiri jagat maya. Tagar dukungan dan ucapan semangat menjadi bukti bahwa meski jabatan ada batasnya, rasa hormat tidak punya masa kedaluwarsa.

​“Rasa cinta masyarakat itu organik. Tidak bisa dipesan, tidak bisa dipaksa,” tambah Miq Karde menutup pembicaraan.

​Hingga berita ini diracik, gelombang dukungan moral terus mengalir. Lombok Tengah seolah ingin membuktikan satu hal: bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan jasa pahlawannya—dan bagi mereka, Abah adalah pahlawan itu.

*

Bagikan: